Sebelum membidik obyek menarik, pelajari dulu dengan membaca artikel menarik ini, 7 Peralatan Andalan Street Photographer
1.Pahami Ruang Publik
2. Tanamkan Jiwa Flâneur
3. Bukan Sesuatu yang Indah
4. Estetika dari Sesuatu yang Biasa
5. Jangan Tercampur dengan Genre Fotografi Lain
Portrait
Jurnalistik
Dokumentasi
Seperti telah disebutkan di atas, fotografi jalanan mengambil tempat di ruang publik. Karena itu, juru foto jalanan, atau street photographer, harus memahami batasan-batasan dari ruang publik itu sendiri. Riki menyebutkan, ruang publik adalah tempat di mana warga dan masyarakat berkomunikasi, menyampaikan pendapat, argumen, serta aspirasi.
“Sifatnya harus terbuka, transparan, dan tidak ada intervensi dari pihak pemerintah atau badan otonom lainnya, termasuk pihak swasta,” ujar Riki.
Jadi, bisa disimpulkan ruang publik berada di tengah-tengah masyarakat. Ruang publik adalah tempat terjadinya komunikasi dan interaksi antar warga.
Robert Capa, fotografer kawakan asal Hongaria pernah mengatakan, “Jika foto Anda tidak bagus, berarti Anda kurang dekat.” Ini sangat berlaku pada fotografi jalanan. Perlu diingat, dekat di sini bukan berarti jarak antara lensa dengan subyek, tetapi kedekatan seorang fotografer dengan lingkungan di sekitarnya. Nah, agar bisa dekat dengan subyeknya, seorang juru foto jalanan harus, atau sebaiknya, mempunyai jiwa flâneur.
Apa itu flâneur? Flâneur atau pelancong adalah orang yang berjalan untuk menikmati perjalanan dan berbaur dengan emosi di mana ia berpijak. “Jadi, Anda jangan langsung berpikir untuk memotret, jalan dulu. Cintai dulu apa yang Anda lakukan dan berbaurlah dengan mereka,” kata Riki.
Nantinya, Riki melanjutkan, ketika menemukan subyek yang menarik untuk dipotret, fotografer bisa ‘hit and run’,atau memotret lalu pergi. Itu adalah salah satu metode yang dapat digunakan. Namun, sangat disarankan agar fotografer bisa ikut ngobrol atau berinteraksi dengan warga yang ia temui, sehingga terjalin kedekatan dengan subyek atau lingkungan di mana fotografer berada.
3. Bukan Sesuatu yang Indah
Jalanan, salah satu ruang publik tempat fotografer jalanan berburu subyek adalah jalur yang dilewati oleh seseorang untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Ada dinamika dan ketegangan yang dapat dirasakan di sana.
“Kita bisa mendengarkan percakapan yang seru, marah, atau kecewa. Perpaduan antara ketegangan dan dinamika ini yang membuat jalanan menjadi istimewa,” ucap Riki.
Menurut dia, ini membuat fotografi jalanan punya peran sebagai studi sosial. Karena genre ini bukan memotret sesuatu yang indah, tetapi mengabadikan keseharian masyarakat. Apa yang ada di jalan, apa yang terjadi di jalan, dan cerita apa yang ada di jalan.
4. Estetika dari Sesuatu yang Biasa
Jalanan banyak menyajikan bahan-bahan mentah yang bisa diolah dalam bentuk estetika. Ini disebut juga sebagai estetika banal, sebuah konsep yang dirumuskan oleh Erik Prasetya, salah satu fotografer paling berpengaruh di Asia versi Invisible Photographer Asia. Banal sendiri memiliki arti tidak elok atau biasa.
Dijelaskan Riki, bahan-bahan mentah tersebut antara lain emosi, keceriaan, kesedihan, tragedi, jejak manusia, bisa berupa tulisan di dinding, sampah, atau tanda-tanda di jalan, kejanggalan atau keganjilan, dan sebagainya.
“Bahan-bahan mentah inilah yang diolah menjadi karya fotografi jalanan, dengan manusia sebagai minat utamanya,” kata Riki.
Ia menambahkan, karena manusia mempunyai kemauan, tujuan, dan gerakannya sendiri, fotografer harus memposisikan manusia bukan sebagai obyek, tetapi sebagai subyek.
5. Jangan Tercampur dengan Genre Fotografi Lain
Fotografi jalanan sering overlapping dengan jenis fotografi lainnya, seperti portrait, jurnalistik, dokumentasi, dan travel. Sebenarnya, masing-masing punya pola sendiri dan berbeda dari sisi pendekatannya. Pelajari pola berikut.
Portrait
Portrait berusaha mengeluarkan karakter atau sifat subyek foto. Biasanya subyek bisa diatur posenya sedemikan rupa oleh fotografer, sehingga bisa menampilkan atau menghasilkan gambar yang diinginkan.
Jurnalistik
Melalui foto, genre ini menyampaikan peristiwa yang memiliki kaidah berita atau peristiwa terbaru. Subyek dokumentasi biasanya sudah ditentukan. Fotografer sudah punya daftar apa saja yang akan difoto.
Dokumentasi
Tujuannya adalah mendokumentasikan sesuatu, contohnya tambang minyak di lepas pantai. Syarat utamanya adalah kelengkapan informasi, ini juga sekaligus sebagai batasannya. Karena mementingkan suatu kelengkapan dokumentasi, fotografer bisa mengatur atau mengarahkan subyek foto.
Travel
Genre ini lebih banyak menampilkan identitas suatu daerah, seperti bangunan, budaya, atau kuliner, dibandingkan menampilkan emosi dan estetika jalanannya.
Poin-poin di atas sebenarnya hanya panduan. Sebagai fotografer, Anda tidak perlu takut bereksperimen. Sering-sering juga berbagi karya di komunitas online agar mendapat banyak masukan dari sesama pecinta genre ini. Selamat mencoba!
Jangan lewatkan juga artikel menarik berikut, Empat Lensa Baru Sigma untuk Segala Kebutuhan
Workshop ini merupakan bagian dari seri yang menjadi agenda reguler Oktagon. Untuk informasi terkini tentang jadwal workshop, kunjungi Oktagon.

Komentar
Posting Komentar