Mengupas Lima Aspek Penting Fotografi Jalanan
Sejak hadirnya kamera yang dapat dibawa-bawa pada 1920-an, fotografer mendapat kebebasan memotret apa pun secara spontan. Karya foto mulai menampilkan momen-momen yang tidak direkayasa atau direncanakan sebelumnya. Sejak saat itu, street photography atau fotografi jalanan mulai mendapatkan tempat di hati pencinta fotografi.
Sebenarnya, apa itu fotografi jalanan? Secara singkat, ini adalah kegiatan pemotretan yang fokus pada kehidupan manusia di jalanan atau ruang publik. Hasilnya adalah cerminan dari keseharian masyarakat tanpa adanya rekayasa, baik itu pengaturan subjek maupun olah digital yang seminimal mungkin. Meski menyinggung kata ‘jalanan’, foto tidak mesti dipotret di jalanan. Bisa di pasar, mal, terminal, stasiun kereta api, atau ruang publik lainnya.
Di Indonesia, fotografi jalanan termasuk salah satu genre yang diminati. Komunitas-komunitas pencinta fotografi jalanan dapat ditemukan di berbagai kota di Indonesia. Meski umumnya masih berskala kecil, anggotanya cukup solid. Melihat animo tersebut, Oktagon, sebagai penyedia produk fotografi terdepan di Indonesia, mengadakan workshop yang secara khusus membahas genre ini.
Diadakan di Oktagon, Jalan Gunung Sahari Raya No. 50A, Jakarta Pusat, Sabtu, 5 September 2015, acara bertajuk “Street Photography Workshop” ini menghadirkan Riki Dior Rondonuwu, pendiri Indonesia on the Streets (IOS), sebagai pembicara. IOS adalah grup Facebook dengan belasan ribu anggota yang terbuka untuk siapa dan punya ketertarikan pada fotografi jalanan.
Workshop kali ini tidak banyak membahas teknik fotografi, namun lebih mendalami apa saja yang perlu diperhatikan oleh seorang fotografer sebelum ia membawa kameranya turun ke jalan. Artikel ini mengajak Anda mengupas lima aspek penting fotografi jalanan yang disampaikan Riki.
Sebenarnya, apa itu fotografi jalanan? Secara singkat, ini adalah kegiatan pemotretan yang fokus pada kehidupan manusia di jalanan atau ruang publik. Hasilnya adalah cerminan dari keseharian masyarakat tanpa adanya rekayasa, baik itu pengaturan subjek maupun olah digital yang seminimal mungkin. Meski menyinggung kata ‘jalanan’, foto tidak mesti dipotret di jalanan. Bisa di pasar, mal, terminal, stasiun kereta api, atau ruang publik lainnya.
Di Indonesia, fotografi jalanan termasuk salah satu genre yang diminati. Komunitas-komunitas pencinta fotografi jalanan dapat ditemukan di berbagai kota di Indonesia. Meski umumnya masih berskala kecil, anggotanya cukup solid. Melihat animo tersebut, Oktagon, sebagai penyedia produk fotografi terdepan di Indonesia, mengadakan workshop yang secara khusus membahas genre ini.
Diadakan di Oktagon, Jalan Gunung Sahari Raya No. 50A, Jakarta Pusat, Sabtu, 5 September 2015, acara bertajuk “Street Photography Workshop” ini menghadirkan Riki Dior Rondonuwu, pendiri Indonesia on the Streets (IOS), sebagai pembicara. IOS adalah grup Facebook dengan belasan ribu anggota yang terbuka untuk siapa dan punya ketertarikan pada fotografi jalanan.
Workshop kali ini tidak banyak membahas teknik fotografi, namun lebih mendalami apa saja yang perlu diperhatikan oleh seorang fotografer sebelum ia membawa kameranya turun ke jalan. Artikel ini mengajak Anda mengupas lima aspek penting fotografi jalanan yang disampaikan Riki.

Komentar
Posting Komentar